Kamis, 19 Desember 2019

Manusia dan Penderitaan: Puisi tentang Penderitaan

Lambang Penderitaan: Aku



Aku lemah, diriku sebagai simbol penderitaan,
tampilan diriku sebagai lambang rasa sakit. 
Biarkan ku menggambarkan apa itu penderitaan,
berasal dari pengkhianatan. 

Ketika kejujuran dan kesetiaan tersapu oleh
banjir uang yang telah mereka hasilkan,
kerabat tidak terdengar seperti kerabat saat itu.

Aliran kesakitan fisik yang tak tertahankan,
ditemani permainan zat dalam tubuh.
Berani membelai ku seperti orang tercinta.
Teman-teman nyaman dengan kegembiraan,
menjauh dari orang lemah sepertiku.

Hampir semua sudah lupa,
apa yang telah ku lakukan
untuk kemakmuran mereka
dan kesuksesan.

Kenangan nostalgia mencoba melahap ku,
menaburkan bubuk dingin
hatiku yang terluka.

Duka ada untuk memberi ku makan,
air mata mengalir menghujani ku.
Seorang pria kesepian yang tidak bisa hidup dengan kebahagiaan,
melankonis sangat menyakitiku.

Roti tidak tampak seperti roti bagi ku. 
Ketika ku merasa kematian semakin dekat,
lebih dekat denganku.

Dunia yang egois!
Semua orang di sini dilahirkan untuk mengumpulkan uang,
dengan mengorbankan moralitas.

Hidup jadi lebih murah di hadapan uang. 
Tidak ada jejak kemanusiaan di mana pun.
Ekspresi suka rela itu palsu. 

Selasa, 17 Desember 2019

Manusia dan Keindahan: Puisi tentang Keindahan

Keindahan Alam

Saat fajar,
ketika semua orang tertidur,
dan bisa mendengar suara angin,
pohon-pohon menatap mu

Ketika burung camar berterbangan
di atas laut,
membisikkan kata-kata riang,
terbang dengan damai,
menikmati alam

Saat matahari terbit,
dan bunga-bunga bangun
dari tidurnya yang indah,
menari dan bernyanyi,
menikmati waktu mandi

Mata air yang dingin,
menuruni gunung,
orang-orang menatap dengan damai,
dengan senyum di wajah mereka,
menikmati pemandangan indah

Ketika burung dan merpati
mendekat ke langit dan mendarat kembali,
menikmati udara sejuk dan ketenangan
Dan ketika pohon-pohon berbuah segar,
ingin rasanya menggigit

Ketika matahari terbenam, bulan terbit
Meninggalkan warna-warna indah di langit,
itulah yang disebut alam


Manusia dan Harapan: Puisi tentang Harapan

Hope by Emily Dickinson 
Translate to Indonesia

Harapan ialah sesuatu yang bersayap
yang bertengger di jiwa,
menyanyikan lagu tanpa kata-kata,
tak pernah berhenti sedikit pun

terdengar indah dalam gemuruh angin,
dan rasa sakit bagaikan badai,
bisa mengusir burung kecil,
yang masih menyimpan banyak kehangatan

Pernah ku mendengarnya di daratan yang sangat dingin,
dan lautan yang sangat asing
Namun tak sedikit pun dariku
ia pinta walau hanya sedikit

Kamis, 05 Desember 2019

Manusia dan Keadilan: Puisi Keadilan

Di Negeri Amplop

Amplop-amplop di negeri amplop
Mengatur dengan teratur 
Hal-hal yang tak teratur menjadi teratur
Hal-hal yang teratur menjadi tak teratur
Memutuskan putusan yang tak putus
Membatalkan putusan yang sudah putus
Amplop-amplop menguasai penguasa
Dan mengendalikan orang-orang biasa
Amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan
Mencairkan dan membekukan
Mengganjal dan melicinkan
Orang bicara bisa bisu
Orang mendengar bisa tuli
Orang alim bisa nafsu
Orang sakti bisa mati 

Di negeri amplop
Amplop-amplop mengamplopi
apa saja dan siapa saja