Rabu, 20 November 2019

Manusia dan Kebudayaan: Resensi Film Sang Penari


Resensi Film Dokumenter



Mata Kuliah: Ilmu Budaya Dasar
Kelas: 1EA05
Oleh:
Annisa Herawati  (10219911)



A.   Tema Film
Kebudayaan dan pendidikan
B.   Tentang Film


Judul: Sang Penari
Sutradara: Ifa Isfansyah
Produser: Shanti Harmayn
Pemeran:
-          Prisia Nasution
-          Dewi Irawan
-          Oka Antara
-          Slamet Rahardjo
-          Landung Simatupang
-          Hendro Djarot
-          Happy Salma
-          Teuku Rifnu Wikana
-          Tio Pakusadewo
-          Lukman Sardi
Sinematografi: Yadi Sugandi
Distributor: Salto Films
Tanggal rilis: 10 November 2011
Durasi: 111 menit
Negara: Indonesia
Sang Penari (Internasional:The Dancer) merupakan film drama Indonesia yang dirilis pada 10 November 2011 yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah serta dibintangi oleh Prisia Nasution dan Oka Antara sebagai pemeran utama, serta Slamet Rahardjo, Dewi Irawan dan Hendro Djarot sebagai pemeran pendukung. Film ini diadaptasi dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk tahun 1982 karya Ahmad Tohari, penulis asal Banyumas, Jawa Tengah. Film ini menceritakan kisah cinta tragis seorang pemuda desa dengan seorang penari ronggeng baru di desa kecilnya yang dirundung kemiskinan, kelaparan, dan kebodohan di Indonesia tahun 1960-an yang penuh gejolak politik.
C.   Isi Film
Film ini menceritakan cinta yang terjadi di sebuah desa miskin Indonesia pada pertengahan 1960-an. Seorang tentara muda bernama Rasus (Nyoman Oka Antara) yang kembali setelah sekian lama ke kampung halamannya untuk mencari cintanya yang hilang, Srintil (Prisia Nasution).
Cerita film ini berawal ketika keduanya masih sangat kecil dan saling jatuh cinta di kampung mereka yang kecil dan miskin bernama Dukuh Paruk. Srintil seorang gadis kecil yang sangat terpesona dengan penari ronggeng di kampungnya memang bercita-cita untuk menjadi penari ronggeng. Malangnya, insiden tempe bongkrek seakan menjadi pintu buntu bagi Srintil dalam mewujudkan cita-citanya. Tempe bongkrek yang dibuat ayahnya membunuh hamper seisi kampung, termasuk sang penari ronggeng yang menjadi alasan Srintil dalam bercita-cita. Dan dikarenakan merasa bersalah atas kejadian ini sang ayah dan ibu Srintil pun mati bunuh diri.
Hanya Rasus teman kecilnya yang kini menemani Srintil. Mereka menjadi sepasang kekasih hingga dewasa. Menjelang dewasa, Srintil semakin mahir menari. Pesona Srintil yang magis membuat para tetua dukuh percaya bahwa Srintil adalah titisan ronggeng. Pada saat Srintil menyiapkan diri untuk tugasnya, Rasus menyadari bahwa menjadi seorang ronggeng tidak hanya berarti menjadi pilihan dukuhnya di pentas-pentas tari. Srintil akan menjadi milik semua warga Dukuh Paruk dan kemampuan menari Srintil akan menghalangi cinta mereka. Hal ini menempatkan Rasus pada sebuah dilema. Ia merasa cintanya telah dirampas. Dalam keputusasaan, Rasus meninggalkan dukuhnya untuk menjadi anggota militer.
Seiring dengan berjalannya waktu, Dukuh Paruk telah menjadi sasaran para penganut komunisme. Ronggeng yang merupakan sarana hiburan dan budaya kini diboncengi kepentingan komunis. Dusun Paruk menjadi merah dan menjadi salah satu desa yang diawasi oleh tentara. Ketika operasi penumpasan komunis dilakukan untuk menumpas orang-orang dusun Paruk yang telah merah terjadilah kembali dilema yang dialami oleh Rasus dimana ia harus memilih antara loyalitas kepada negara atau cintanya kepada Srintil.
Akhirnya ketika Rasus berada dalam dilema, ia sudah kehilangan jejak kekasihnya. Srintil telah ditahan tentara entah dimana. Pencariannya dalam menemukan belahan jiwanya yang tidak mudah, baru membuahkan hasil setelah 10 tahun. Dimana nasib mempertemukan Rasus dengan Srintil dalam keadaan yang semuanya sudah berubah. Rasus menemukan Srintil hanya bukanlah menjadi penari Ronggeng yang menarik magis para penontonnya, namun hanyalah sebagai seorang penari keliling di jalanan.
D.   Komentar
Kisah film Sang Penari terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Ceritanya memang unik jika dibandingkan dengan film-film kita kebanyakan. Sejak awal hingga pertengahan film, teknik flashback digunakan dengan baik dan menarik, seperti ketika Rasus kembali ke kampung dan mengingat kejadian-kejadian yang telah ia lalui bersama warga kampung sebelum warga kampung dievakuasi. Dari sisi cerita ada beberapa informasi cerita yang kurang disajikan dengan baik yang membuat penonton bertanya-tanya. Seperti misalnya, apa yang membuat masyarakat Dukuh Paruk begitu memuja ki Secamenggala, dalam filmnya tidak begitu jelas latar belakangnya. Dalam film juga kurang begitu diterangkan mengapa Srintil yang tadinya tidak dianggap sebagai Ronggeng oleh sang dukun tiba-tiba bisa menjadi Ronggeng setelah menemukan keris milik Ronggeng yang terdahulu?
Secara teknis film ini terlihat matang, seperti film-film sang sineas sebelumnya. Penggunaan setting cukup baik menggambarkan suasana tahun 1950-1960-an, hanya nuansa mistis ketika ronggeng menari kurang begitu kentara. Akting pemain pun cukup lumayan. Penampilan akting Prisia dan Oka cukup pas bermain sebagai Srintil dan Rasus. Ilustrasi musiknya pun juga menyatu dengan adegan-adegannya. Shot akhir filmnya yang cukup istimewa, menegaskan bahwa Srintil telah memilih jalan hidupnya sebagai ronggeng, dan jalan panjang telah menantinya. Secara umum film cukup baik serta membawa warna sendiri bagi perfilman kita. Film ini mampu menggambarkan kisah romantika di sebuah desa terpencil pada masa 60-an yang kental dengan nuansa politik yang tengah panas-panasnya kala itu. Film ini dengan berani menggambarkan latar belakang sebagian masyarakat kita yang pada masa itu relatif masih terbelakang serta jauh dari beradab. Mungkin ini pesan moral yang ingin disampaikan sang pembuat film pada generasi muda kita sekarang untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
E.   Kesimpulan
Film adaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang disutradarai oleh Ifa Ifansyah bercerita tentang sebuah desa yang berada di daerah terpencil bernama Dukuh Paruk pada masa 1950-1960an. Dukuh Paruk terkenal dengan ronggeng-nya, yakni sebuah kesenian berupa tarian yang muncul untuk menghormati almarhum sesepuh dukuh, Ki Secamenggala. Seorang ronggeng adalah seorang gadis terpilih tidak hanya bisa menari namun juga menarik secara fisik. Selain menari, seorang ronggeng harus mau “membuka kelambu” artinya berhubungan intim dengan laki-laki di dukuh tersebut apabila ada yang sanggup membayar. Kebanggaan bagi pria di dukuh tersebut bagi yang mampu meniduri sang ronggeng. Srintil (Prisia Nasution), sangat terobsesi menjadi ronggeng (Penari) utamanya karena alasan masa lalunya yang pahit sekaligus membayar kesalahan orang tuanya. Srintil mengalami dilema yang sulit karena mencintai Rasus (Oka Antara) namun ia harus menyerahkan kehormatannya jika ia menjadi ronggeng.
F.    Sumber


Tidak ada komentar:

Posting Komentar