Resensi
Film Dokumenter
Mata Kuliah: Ilmu
Budaya Dasar
Kelas: 1EA05
Oleh:
Annisa Herawati (10219911)
A.
Tema Film
Kebudayaan dan
pendidikan
B.
Tentang Film
Judul: Sang Penari
Sutradara: Ifa Isfansyah
Produser: Shanti Harmayn
Pemeran:
-
Prisia Nasution
-
Dewi Irawan
-
Oka Antara
-
Slamet Rahardjo
-
Landung Simatupang
-
Hendro Djarot
-
Happy Salma
-
Teuku Rifnu
Wikana
-
Tio Pakusadewo
-
Lukman Sardi
Sinematografi:
Yadi Sugandi
Distributor:
Salto Films
Tanggal
rilis: 10 November 2011
Durasi:
111 menit
Negara:
Indonesia
Sang Penari (Internasional:The Dancer) merupakan
film drama Indonesia yang dirilis pada 10 November 2011 yang disutradarai oleh
Ifa Isfansyah serta dibintangi oleh Prisia Nasution dan Oka Antara sebagai
pemeran utama, serta Slamet Rahardjo, Dewi Irawan dan Hendro Djarot sebagai
pemeran pendukung. Film ini diadaptasi dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk
tahun 1982 karya Ahmad Tohari, penulis asal Banyumas, Jawa Tengah. Film ini
menceritakan kisah cinta tragis seorang pemuda desa dengan seorang penari
ronggeng baru di desa kecilnya yang dirundung kemiskinan, kelaparan, dan
kebodohan di Indonesia tahun 1960-an yang penuh gejolak politik.
C.
Isi
Film
Film ini menceritakan cinta yang terjadi di sebuah
desa miskin Indonesia pada pertengahan 1960-an. Seorang tentara muda bernama
Rasus (Nyoman Oka Antara) yang kembali setelah sekian lama ke kampung
halamannya untuk mencari cintanya yang hilang, Srintil (Prisia Nasution).
Cerita film ini berawal ketika keduanya masih sangat
kecil dan saling jatuh cinta di kampung mereka yang kecil dan miskin bernama
Dukuh Paruk. Srintil seorang gadis kecil yang sangat terpesona dengan penari
ronggeng di kampungnya memang bercita-cita untuk menjadi penari ronggeng.
Malangnya, insiden tempe bongkrek seakan menjadi pintu buntu bagi Srintil dalam
mewujudkan cita-citanya. Tempe bongkrek yang dibuat ayahnya membunuh hamper
seisi kampung, termasuk sang penari ronggeng yang menjadi alasan Srintil dalam
bercita-cita. Dan dikarenakan merasa bersalah atas kejadian ini sang ayah dan
ibu Srintil pun mati bunuh diri.
Hanya Rasus teman kecilnya yang kini menemani
Srintil. Mereka menjadi sepasang kekasih hingga dewasa. Menjelang dewasa,
Srintil semakin mahir menari. Pesona Srintil yang magis membuat para tetua
dukuh percaya bahwa Srintil adalah titisan ronggeng. Pada saat Srintil
menyiapkan diri untuk tugasnya, Rasus menyadari bahwa menjadi seorang ronggeng
tidak hanya berarti menjadi pilihan dukuhnya di pentas-pentas tari. Srintil
akan menjadi milik semua warga Dukuh Paruk dan kemampuan menari Srintil akan
menghalangi cinta mereka. Hal ini menempatkan Rasus pada sebuah dilema. Ia
merasa cintanya telah dirampas. Dalam keputusasaan, Rasus meninggalkan dukuhnya
untuk menjadi anggota militer.
Seiring dengan berjalannya waktu, Dukuh Paruk telah
menjadi sasaran para penganut komunisme. Ronggeng yang merupakan sarana hiburan
dan budaya kini diboncengi kepentingan komunis. Dusun Paruk menjadi merah dan
menjadi salah satu desa yang diawasi oleh tentara. Ketika operasi penumpasan
komunis dilakukan untuk menumpas orang-orang dusun Paruk yang telah merah
terjadilah kembali dilema yang dialami oleh Rasus dimana ia harus memilih
antara loyalitas kepada negara atau cintanya kepada Srintil.
Akhirnya ketika Rasus berada dalam dilema, ia sudah
kehilangan jejak kekasihnya. Srintil telah ditahan tentara entah dimana.
Pencariannya dalam menemukan belahan jiwanya yang tidak mudah, baru membuahkan
hasil setelah 10 tahun. Dimana nasib mempertemukan Rasus dengan Srintil dalam
keadaan yang semuanya sudah berubah. Rasus menemukan Srintil hanya bukanlah
menjadi penari Ronggeng yang menarik magis para penontonnya, namun hanyalah
sebagai seorang penari keliling di jalanan.
D.
Komentar
Kisah film Sang Penari terinspirasi dari novel
Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Ceritanya memang unik jika
dibandingkan dengan film-film kita kebanyakan. Sejak awal hingga pertengahan
film, teknik flashback digunakan dengan baik dan menarik, seperti ketika Rasus
kembali ke kampung dan mengingat kejadian-kejadian yang telah ia lalui bersama
warga kampung sebelum warga kampung dievakuasi. Dari sisi cerita ada beberapa
informasi cerita yang kurang disajikan dengan baik yang membuat penonton
bertanya-tanya. Seperti misalnya, apa yang membuat masyarakat Dukuh Paruk
begitu memuja ki Secamenggala, dalam filmnya tidak begitu jelas latar
belakangnya. Dalam film juga kurang begitu diterangkan mengapa Srintil yang
tadinya tidak dianggap sebagai Ronggeng oleh sang dukun tiba-tiba bisa menjadi
Ronggeng setelah menemukan keris milik Ronggeng yang terdahulu?
Secara teknis film ini terlihat matang, seperti
film-film sang sineas sebelumnya. Penggunaan setting cukup baik menggambarkan
suasana tahun 1950-1960-an, hanya nuansa mistis ketika ronggeng menari kurang
begitu kentara. Akting pemain pun cukup lumayan. Penampilan akting Prisia dan
Oka cukup pas bermain sebagai Srintil dan Rasus. Ilustrasi musiknya pun juga
menyatu dengan adegan-adegannya. Shot akhir filmnya yang cukup istimewa, menegaskan
bahwa Srintil telah memilih jalan hidupnya sebagai ronggeng, dan jalan panjang
telah menantinya. Secara umum film cukup baik serta membawa warna sendiri bagi
perfilman kita. Film ini mampu menggambarkan kisah romantika di sebuah desa
terpencil pada masa 60-an yang kental dengan nuansa politik yang tengah
panas-panasnya kala itu. Film ini dengan berani menggambarkan latar belakang
sebagian masyarakat kita yang pada masa itu relatif masih terbelakang serta
jauh dari beradab. Mungkin ini pesan moral yang ingin disampaikan sang pembuat
film pada generasi muda kita sekarang untuk tidak mengulangi kesalahan yang
sama.
E.
Kesimpulan
Film adaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad
Tohari yang disutradarai oleh Ifa Ifansyah bercerita tentang sebuah desa yang
berada di daerah terpencil bernama Dukuh Paruk pada masa 1950-1960an. Dukuh
Paruk terkenal dengan ronggeng-nya, yakni sebuah kesenian berupa tarian yang
muncul untuk menghormati almarhum sesepuh dukuh, Ki Secamenggala. Seorang
ronggeng adalah seorang gadis terpilih tidak hanya bisa menari namun juga
menarik secara fisik. Selain menari, seorang ronggeng harus mau “membuka
kelambu” artinya berhubungan intim dengan laki-laki di dukuh tersebut apabila
ada yang sanggup membayar. Kebanggaan bagi pria di dukuh tersebut bagi yang
mampu meniduri sang ronggeng. Srintil (Prisia Nasution), sangat terobsesi
menjadi ronggeng (Penari) utamanya karena alasan masa lalunya yang pahit
sekaligus membayar kesalahan orang tuanya. Srintil mengalami dilema yang sulit
karena mencintai Rasus (Oka Antara) namun ia harus menyerahkan kehormatannya
jika ia menjadi ronggeng.
F.
Sumber


Tidak ada komentar:
Posting Komentar